Ada Apa Dengan Sabtu Pahing ?

Bagi Sobat Jajandolan yang asli orang Banyumas, pasti sering atau minimal pernah mendengar, ada orang tua yang melarang anaknya pergi pada hari Sabtu, apalagi hari Sabtu Pahing. Sebagian menganggap pantangan untuk hari Sabtu Pahing, selain melakukan bepergian jauh juga larangan untuk punya hajatan. Kalau jaman dulu, larangan itu karena sebagai perintah orang tua, sebagai anak biasanya hanya menurut. Walau sebenarnya dalam hati bertanya kenapa? Dan terkadang orang tua kita, juga tidak bisa memberi penjelasan yang bisa diterima oleh anak-anak ketika ditanya. Sobat juga mengalami hal yang sama?

Agar kita semua mengerti dan memahami mengapa orang tua kita melarang bepergian pada hari Sabtu, berikut kami petikkan, salah satu Babad Banyumas yang ditulis oleh Bapak Soegeng Wijono dan Bapak Sunardi dalam Bukunya “Banjoemas Riwajatmoe Doeloe” halaman 2-3. Dalam awal tulisan, Beliau juga menyebut tulisan dipetik dari buku “Babad Banjoemas karya Bapak R. Aria Wirjaatmadja (Patih Purwakerta) sebagai berikut :

Sesuai kesukaan ayahnya, R. Ketuhu juga suka berkelana, njajah desa milang kori. Dalam perkenalannya itu R. Ketuhu sampai ke wilayah Kadipaten Wirasaba (di bawah pemerintahan Kerajaan Majapahit), yang pada saat itu diperintah oleh Adipati Paguwan atau Adipati Wirautama. R. Ketuhu melamar untuk mengabdi (bekerja) pada Adipati Wirautama.

Dengan mengetahui silsilah R. Ketuhu, Adipati Wirautama sangat berkenan dan sangat menyayanginya. Karena Adipati Wirautama tidak punya keturunan, maka R. Ketuhu dijadikan anak angkat. Pada akhirnya R. Ketuhu dinobatkan sebagai Adipati pengganti Adipati Wirautama, yang kemudian bergelar sebagai Adipati Wirautama II.

Pada masa-masa berikutnya, yang menjadi Adipati di Kadipaten Wirasaba secara berturut-turut adalah: Adipati Wirautama III atau Adipati Urang (putra Wirautama II), Adipati Surawin (putra Adipati Wirautama III), Adipati Surautama (putra Adipati Surawin yang waktu muda bernama Jaka Tambangan), dan Adipati Wargautama (putra Adipati Surautama yang waktu muda bernama Jaka Warga). Sejak masa mudanya Jaka Warga, Kadipaten Wirasaba berapa di bawah pemerintahan Kasultanan Pajang, yang berdiri pada tahun 1568.

Sudah menjadi kewajiban bagi para Adipati di bawah Kasultanan Pajang untuk mempersembahkan puteri sebagai Selir Sultan. Demikian pula Adipati Wargautama tidak luput dari kewajiban untuk menyerahkan puterinya. Setelah acara serah terima tersebut Adipati Wargautama segera meninggalkan Kasultanan dengan naik kuda dawuk bang menyusuri pantai selatan. Namun sesaat setelah Adipati Wargautama pergi meninggalkan Istana, mendadak dua orang (Demang Toyareka beserta anaknya) yang menghadap Sultan dan melaporkan bahwa puteri persembahan Adipati Wargautama adalah menantu si penghadap. Atas laporan tersebut Sultan Pajang sangat murka dan mengutus petugas untuk segera menyusul dan membunuh Adipati Wargautama yang dianggap telah membohonginya.

Segera setelah petugas berangkat, Sultan Pajang menemui puteri Adipati Wargautama untuk menanyakan akan kebenaran laporan tersebut. Ternyata keadaan yang sebenarnya bahwa puteri Adipati Wargautama sewaktu kecilnya memang telah dijodohkan dengan anak Ki Demang Toyareka, namun ia tidak bersedia dan sampai saat itu dia masih dalam keadaan suci. Mendengar pengakuan dan penjelasan puteri Adipati Wargautama itu, Sultan Pajang sangat menyesal dan segera mengutus petugas kedua, gandek menteri untuk membatalkan tugas pengejaran dan pembunuh Adipati Wargautama.

Tengah hari hari Sabtu Pahing, sewaktu Adipati Wargautama sedang istirahat di dalam bangunan bale malang di desa Bener (wilayah Ambal), sambil menikmati makan siang dengan lauk pindang angsa, datang utusan pertama Sultan Pajang. Mereka mempersilahkan Ki Adipati untuk menyelesaikan makan siangnya. Sebelum Ki Adipati menyelesaikan makan siang, mendadak datang utusan kedua yang melambai-lambaikan tangan dengan pertanda pembatalan tugas. Oleh petugas pertama lambaian tangan petugas kedua tersebut ditafsirkan sebagai isyarat untuk membunuh Ki Adipati Wirasaba. Tugas pun di laksanakan. Keris dihunus dan ditikamkan ke dada Ki Adipati Wargautama. Melihat peristiwa ini para abdi pengikut Ki Adipati ketakutan dan lari menyelamatkan diri, pulang ke Kadipaten Wirasaba.

Sebelum menghembuskan nafas terkhirmya Ki Adipati Wargautama, sempat mendengar dan melerai pertengkaran antara petugas kedua dan petugas pertama yang salah menafsirkan kode lambaian tangan petugas kedua. Ki Adipati Wargautama berpesan kepada mereka agar mereka segera pulang ke Pajang dan melaporkan bahwa Ki Adipati Wargautama telah meninggal sebelum utusan kedua sampai di tempat, sehingga pembatalan perintah tidak sempat disampaikan ke utusan pertama.

Kepada abdi pengikut yang setia menunggu, Ki Adipati berpesan bahwa kelak kemudian hari anak cucu keturunan Adipati Wargautama diminta berpantang untuk: 
  1. Bepergian pada Sabtu Pahing
  2. Makan pindang angsa
  3. Membangun dan menempati rumah bentuk bale malang, dan ;
  4. Menaiki kuda dhawuk bang.

Beberapa hari kemudian para abdi pengikut Ki Adipati dampai di Kadipaten Wirasaba, terus melaporkan peristiwa pembunuhan tersebut. Mendengar laporan tersebut para kerabat Kadipaten sangat terkejut, berduka dan segera pergi ke desa Bener untuk mengambil jenazah Ki Adipati. namun karena kondisi jenazah sudah tidak memungkinkan untuk dibawa pulang, maka langsung dikebumikan di makam pakeringan.

Sesampai di Kasultanan Pajang, para utusan sultan melaporkan kejadian di Desa Bener sesuai pesan Adipati Wargautama. dengan rasa menyesal Sultan Pajang mengutus petugas untuk memanggil para putra Adipati Wargautama. namun adanya rasa ketakutan yang sangat mendalam atas murka Sultan tidak seorangpun dari ke empat putra Adipati Wargautama yang bersedia menghadap Sultan Pajang.

Dengan kesetiaan yang besar kepada Sultan, R. Jaka Kaiman (Putera Ki Mranggi Semu dari Desa Kejawar), menantu Ki Adipati Wargautama dengan penuh rasa takut, memberanikan diri menghadap Sultan Pajang, apapun resiko yang bakal terjadi atas dirinya. melalui berbagai pertimbangan yang mendalam, atas perkenan Sultan, R. Jaka Kaiman ditetapkan dan dinobatkan sebagai Adipati Wirasaba pengganti Adipati Wargautama dengan gelar Adipati Wargautama II. sekembalinya dari Kasultanan Pajang ke Wirasaba, penobatan tersebut diumumkan oleh utusan Sultan Pajang.

Makam Bupati Banyumas Pertama R Djoko Kaiman


Atas kebesaran jiwa Adipati Wargautama II, karena Adipati Wargautama I berputra empat orang, maka wilayah Kadipaten Wirasaba di bagi menjadi empat wilayah Kabupaten. Adipati Wargautama II sendiri memilih Daerah Banyumas sebagi Wilayah Pemerintahannya. Pusat Pemerintahan dibangun tahun 1571 di Wilayah Desa Kejawar, dekat pertemuan antara Kali Banyumas, Kali Pasinggangan, dan Kali Perwaton di dekat aliran kali serayu. dengan pemekaran Wilayah Kadipaten Wirasaba menjadi empat Kabupaten, maka R. Jaka Kaiman dipanggil pula dengan sebutan Bupati Mrapat (Membagi empat).

Bupati Banyumas Ir Achmad Husein & Wakil Bupati Dr. Budhi Setiawan nyekar di Makam Bupati Pertama Banyumas


Sumur Banyumas lokasi Belakang Pendopo Banyumas (Kota Lama)
Nah Sobat Jajandolan sekarang sudah ada gambaran dan paham, seandainya suatu waktu ada pertanyaan mengapa orang Banyumas dilarang bepergian pada hari Sabtu Pahing. Cerita ini untuk dimengerti, dan sama sekali bukan suatu hal yang mengandung mitos pada kepercayaan tertentu. Hal yang terjadi di dalam cerita di atas mengenai pantangan dalam hari Sabtu Pahing sudah seharusnya dipahami oleh Sobat dengan bijak untuk sebuah peringatan dalam mengenang sebuah sejarah Banyumas, dan bukan malah menakuti apalagi mengkeramatkan hari tersebut.

Semoga bermanfaat, mungkin informasi dan tulisan ini tidak benar seratus persen, untuk itu dengan segala hormat mohon dipahami.

Terima kasih

Artikel & dokumentasi oleh : Humas Pemkab Banyumas 

Popular Posts