'Milang Kori' ke Sambirata, Desa Asri nan Eksotis di Perbukitan Cilongok   


Di tengah kondisi perkembangan jaman dan pergeseran budaya seperti ini banyak dari kita yang perlahan meninggalkan, bahkan melupakan kebudayaan serta kearifan lokal. Di jaman serba canggih seperti sekarang contohnya, orang tidak perlu bertatap muka secara langsung untuk berkomunikasi. Dampak positifnya memang banyak kita rasakan, namun tentu kita tidak bisa menghindar dari sisi negatifnya. Terbukti sekarang banyak dari kita yang mulai kurang bersosialisasi, berkomunikasi, dan bertutur sapa secara langsung, bahkan kepada orang terdekat di sekitar kita. Lama kelamaan sifat egois dari seseorang meningkat dan hubungan sosial serta silaturahmi antar sesama perlahan akan hilang.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan apa yang diajarkan leluhur kita tentang pentingnya berkomunikasi dan bersosialisasi antar sesama. Di jaman dahulu, bahkan hingga sekarang, ada pepatah / peribahasa yang sangat terkenal berbunyi "Njajah Desa Milang Kori" (menjelajah desa menghitung pintu). Peribahasa ini mengandung makna yang sangat dalam, terutama bagi orang-orang yang mencari watak, jati diri, dan pengalaman hidup, dimana hal tersebut dilakukan dengan cara menjelajah ke berbagai wilayah, mempelajari watak masyarakat, pedoman-pedoman hidup sehingga diperolehlah pengalaman yang berharga.

Tertarik untuk menerapkan peribahasa tersebut, kali ini Tim Jajandolan mencoba untuk menjelajah wilayah kecamatan Cilongok, Banyumas, dimana menurut narasumber yang kita temui, ada sebuah desa bernama Sambirata, yang memiliki pemandangan desa yang sangat indah, sejuk, dan asri, dimana penduduk sekitarnya memiliki pembangkit tenaga listrik sendiri yang dikelola dan diswadayai oleh masyarakat setempat. Tidak hanya itu, katanya di sana juga terdapat rawa / telaga yang cukup terkenal bernama Telaga Kumpe. Karena penasaran, kami pun memutuskan untuk menyusuri kabar tersebut.

Minggu, 28 Februari 2016, kami pun bertolak dari Ajibarang pukul 09.00 WIB menuju ke lokasi desa Sambirata, Cilongok. Jalan yang ditempuh melalui jalur yang sama menuju Curug Cipendok. Tidak jauh setelah desa Kalisari, kita akan menjumpai pertigaan sebelum jembatan rel kereta api, dari pertigaan tersebut kita belok ke timur (ke kanan) ke arah Panembangan, lurus terus sampai menemui pertigaan yang ada papan penunjuk arah jalan menuju Sambirata, dari situ kita ke Utara (belok kiri) mengikuti arah ke Sambirata. 
Pertigaan dengan Jalur ke Arah Kanan Menuju ke Panembangan Cilongok

Pertigaan dengan Jalur ke Arah Kiri Menuju ke Sambirata Cilongok
Patokan selanjutnya adalah sebuah lapangan sepak bola yang luas di sebelah kiri jalan, setelah lapangan tersebut kita menjumpai perempatan yang terdapat Balai Desa Sambirata / Mesjid Darussalam nya, dari perempatan tersebut kita belok ke Timur (ke kanan) lalu tidak jauh dari sana kita kembali menjumpai perempatan dengan patokan SDN 1 Sambirata. Dari perempatan tersebut kita belok lagi ke Utara (ke kiri) lalu lurus terus menyusuri jalan yang ada.

Lapangan Desa Sambirata Cilongok

Perempatan Balai Desa Sambirata Cilongok
Perempatan SDN 1 Sambirata Cilongok
Dari perempatan terakhir, jalan akan didominasi oleh jalan perbukitan dengan banyak tanjakan dan masuk ke area hutan pinus. Dari sini sejuknya udara pegunungan sudah bisa kita rasakan. Patokan selanjutnya adalah gerbang masuk berupa gapura bambu kuning yang terletak di sebuah tanjakan, sebagai pertanda kalau perjalanan sudah dekat dengan tujuan.

Gerbang Berupa Gapura Bambu Kuning di Tanjakan Sambirata
Sesampainya di puncak, kita dimanjakan dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Tepat berada di ujung tanjakan ada sebuah pertigaan, dimana jika kita  ke bawah / ke kanan adalah jalan menuju ke Rawa / Telaga Kumpe, sedangkan jika kita ke atas / ke kiri kita akan menuju ke dusun Karanggondang, desa Sambirata Cilongok.

Rawa / Telaga Kumpe, Sambirata Cilongok
Menurut gambar / dokumentasi yang kita lihat di internet, Telaga Kumpe ini sebenarnya sangat indah dan cocok untuk dijadikan tempat berekreasi melepas jenuh dan penat bersama keluarga, namun sayang saat ini Telaga Kumpe sedang Sat aatau kering dan sedang dibangun untuk dikembangkan menjadi salah satu potensi wisata daerah Banyumas, khususnya di Cilongok. Jika kita menyusuri jalan pinggiran telaga, kita akan menuju ke dusun Pesawahan, tempat asal si Tasripin, bocah Banyumas yang dulu sempat terkenal di berita karena ketegaran dan kesabarannya bekerja keras untuk menghidupi ketiga adiknya.

Kondisi Telaga Kumpe Saat Ini (Ketika Tim Jajandolan  Mendatangi Tempat Ini)
Dari Telaga Kumpe, kita bisa menyusuri kembali jalan dari pertigaan tadi ke atas / ke kiri, untuk menuju dusun Karanggondang. Ada cerita yang menarik dari dusun ini yang membuat kami penasaran, bahwasanya dusun ini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) sendiri dari bantuan pemerintah.


Sepanjang jalan menuju dusun ini kita akan dimanjakan dengan jalan-jalan kecil setapak yang sangat indah berlatar lingkungan yang asri dan hijaunya perbukitan. Sambutan warga setempat pun sangat ramah. ketika bertanya ke salah satu warga setempat tentang letak pembangit tenaga listrik di dusun tersebut, kami pun di beritahu jalannya. Pokoknya dari jalan inti lurus terus saja sampai habis jalan aspal, lalu disambung dengan jalan beton pedesaan, jalan bebatuan, hingga habis persis di sebuah jembatan tepi sungai / kali Prukut. Di sanalah letak persis pembangkit tenaga listrik dusun Karanggondang berada. ( Konon ujung dari hulu sungai / kali Prukut ini bersumber dari Curug Cipendok)





Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro di dusun Karanggondang ini sendiri merupakan bantuan pemerintah provinsi Jateng dan langsung diresmikan pada 29 September 2010 oleh Bpk. Bibit Waluyo, selaku Gubernur Jawa Tengah pada saat itu. Konon sebelum bantuan pemerinah masuk, di sini banyak sekali terdapat kincir-kincir air sederhana hasil karya warga setempat untuk menghidupi listrik di rumah masing-masing. Namun karena ketahanananya kurang, maka dibuatlah PLTMH ini. 




PLTMH ini dikelola dan diswadayai sendiri oleh warga setempat. Dan biaya listrik di dusun ini pun terbilang sangat murah. bayangkan, dalam konsumsi 1 rumah dengan pemakaian listrik yang wajar, biasanya warga setempat hanya membayar 10 sampai 15 ribu rupiah per bulannya! Hasil iuran bulanan listrik itu sendiri lah yang nantinya dikumpulkan dan ditabung di bank setempat untuk kemudian digunakan sebagai biaya pengelolaan dan perawatan PLTMH itu sendiri.

Jalan Menuju Bagian Atas PLTMH Karanggondang Sambirata

Saluran Bagian Atas PLTMH Karanggondang Sambirata
Sayang, menurut keterangan warga, saat kami berkunjung PLTMH ini sedang mengalami kerusakan sudah hampir 1 minggu akibat sambaran petir, dan mau tidak mau pasokan listrik di Dusun Karanggondang pun terputus dan padam sudah hampir 1 minggu lamanya. Bayangkan Sob, 1 minggu gelap-gelapan, tanpa listrik di dusun kecil yang letaknya di perbukitan di tengah hutan, sunyi sepi jauh dari keramaian kota, gimana rasanya?

Peristiwa pemadaman listrik seperti itu justru sudah dianggap biasa oleh warga sekitar. Biasanya mereka sering mengalami hal tersebut, ketika terbatasnya sumber daya air yang mengalir untuk menggerakan pembangkit tenaga listrik saat musim kering tiba. Untungnya saat kami ke sana bagian mesin yang rusak sedang diperbaiki di Bandung. Ketika kami konfirmasi hal ini ke Bpk. Gubernur Ganjar Pranowo via akun Twitter, kemudian oleh beliau diteruskan ke akun ESDM Jateng, dan berikut adalah respon dari akun Twitter resmi dari ESDM Jateng : 



Semoga PLTMH dan potensi wisata di Sambirata ini mendapat apresiasi dan perhatian lebih oleh pemerintah guna kesejahteraan bersama yang merata. Perjalanan ke Sambirata ini membuat kita belajar banyak hal tentang pentingnya kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan langsung kepada lingkungan sekitar kita, lihat saja dari awal perjalanan kita menuju ke sana, kalau kita tidak bertanya ke warga setempat, kita tidak mungkin sampai ke desa Sambirata ini, lalu kita juga bisa mengambil pelajaran akibat kita kurang berkomunikasi secara langsung dan hanya mengandalkan media online saja, akibatnya seperti yang kita alami saat mendatangi Telaga Kumpe, dimana menurut berbagai berita dan artikel di internet, tempatnya sangat bagus, namun siapa tahu karena kita kurang update kabar terbaru, ternyata sekarang Telaga Kumpe sedang kering dan dibangun. Serta banyak lagi pelajaran lainnya yang kita dapatkan. 

Dari komunikasi dan bersosialisai secara langsung dengan lingkungan sekitar, kita bisa menimba ilmu sebanyak-banyaknya, memahami watak, kebudayaan, dan kearifan lokal, serta mencari jati diri dan pengalaman, serta membuka wawasan kita seluas-luasnya. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi sudah seharusnya kita sikapi dengan positif dan tentunya tetap diimbangi dengan norma sosial yang berlaku.

Popular Posts